Minggu, 31 Juli 2011

Alasan untuk Berbuat, Berbuat Karena Alasan

Saat yang tepat sepertinya bagi kita untuk bercermin karena besok kita memasuki bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, semua pinta diijabah, dan pintu ampunan dibuka. Mari kita bercermin. Melihat seutuhnya diri ini. Siapa kita? Bagaimana kita ada? Untuk apa?

Saya yakin, kita semua sangat sadar dengan refleksi diri di awal bulan ramadhan. Dan masing-masing orang punya cara sendiri. Salah satu alasan kuat untuk melakukannya adalah (seperti yang saya sebutkan di atas) kemulyaan bulan Ramadhan itu sendiri. Saat pintu-pintu ampunan dibuka, kita beramai-ramai menghadapNya. Saat detik-detik bertabur berkah, kita beramai-ramai menebar empati.

Semua itu tak salah. Bahkan benar saja, karena kita memang butuh alasan untuk berbuat. Harus ada motivasi yang mendorong kita melakukan sesuatu. Harus ada yang memaksa kita untuk merubah diri. Motivasi paling favorit di bulan ramadhan adalah berkah hidup, ampunan, dan dijauhkannya api neraka. Dan simsalabim, semua mesjid penuh, kumandang Al Qur’an menemani malam-malam kita, kebaikan-kebaikan menyelimuti langkah-langkah umat manusia. Pantang untuk berbuat buruk di bulan Ramadhan. Karena kita ingin diberkahi, hidup bahagia dunia akhirat, dan menikmati surga yang abadi.

Seperti yang sudah-sudah. Amalan tak akan luput dari godaan. Syetan dan anak buahnya akan selalu menggoda manusia hingga kiamat tiba. Lantas, apakah kita akan membiarkan kebaikan itu hanya ada di bulan Ramadhan? Tidak kah kita ingin menikmatinya juga di sepanjang langkah hidup? Tanya pada hati. Merinduinya kah?

Bismillah. Biarkan Allah yang mengiring kita dalam niat yang baik. Upaya kita hanya dengan memaksimalkan ikhtiar. Semoga Ramadhan kali ini kita mengawalinya dengan benar. Insyaallah.

Hanya saja, sejujurnya saya sangat penasaran. Kapankah manusia berbuat baik tanpa adanya alasan?

Wallahu’alam.

Jumat, 29 Juli 2011

Saat Memberi Bukan Pilihan

Perjalanan saya selama hampir 2 (dua) tahun di Radar Banjar Peduli (RBP) telah memberi banyak pelajaran berharga. Tak mudah menjadi seorang pekerja sosial, tapi ternyata jauh lebih sulit menghadapi jalan hidup yang berliku. Banyak masalah yang begitu ‘istiqomah’ menjumpai manusia-manusia yang tak berdaya. Entah mereka yang tak punya pekerjaan tetap, atau mereka yang terlilit utang pada rentenir.

Getir lidah ini, kala hanya bisa tersenyum melihat pintu-pintu amal terbuka. Apa yang bisa saya lakukan ketika ada yang meminta sumbangan pembangunan mesjid dikampungnya. “Sudah tiga tahun Mbak,” ujarnya lirih. Insyaallah. Dalam hati saja terucap sembari berharap tangan-tangan muzzaki bersegera mengulurkan bantuan ke sana. Yang membuat saya tercenung adalah mereka kaum terbatas, orang yang tergolong pas-pasan. Namun, masih memikirkan pembangunan kampungnya. Memberikan tenaganya untuk membangun bata-bata rumah Allah. Ya, mereka memberi dalam keterbatasan.

Sungguh bukan sebuah pilihan saya rasa, melainkan sebuah panggilan nurani kemanusiaan. Dan yang terpenting adalah dorongan tangan-tangan tak terlihat, yang senantiasa ada bersama kita, mencatat setiap perbuatan kita. Baik ataupun buruk.

Sadarkah kita, seberapa sering dorongan itu hadir dalam diri dan menjelma dalam wujud nyata? Dorongan untuk memberi, meski kita dalam kekurangan. Saya lihat dari mata-mata yang bersahabat itu, mereka sangat menikmatinya.

Naluri Empati

Anak kecil. Setiap kali mendengar dua kata itu dalam benak saya dulu tergambar sosok anak-anak dengan rambut dikepang dan memegang boneka beruang yang lucu. Di lain waktu bisa saja saya membayangkan sosok anak laki-laki imut dengan pipi merah kerena menangis akibat dimarahi ibunya. Namun, saat ini saya menemukan bahwa menggambarkan sosok ‘anak kecil’ tidaklah seperti yang saya sebutkan tadi. Sekarang, membayangkan sosok anak kecil lebih variatif. Semua mengarah pada satu hal, bahwa anak kecil zaman sekarang lebih cerdas. Mereka sudah bisa diajak bicara tentang cita-cita real, teknologi, dan masalah Negara. Banyak anak kecil yang sudah akrab dengan makna korupsi. Bisa jadi faktor makanan, kemajuan teknologi dan komunikasi menjadi dorongan tersendiri atas perkembangan anak-anak tersebut.

Meski demikian, kita tak akan pernah bisa menghilangkan naluri anak-anak. Naluri yang acapkali terlihat sebagai kenakalan, khayalan, bahkan egoisme. Anak - anak tetaplah anak-anak. Mereka masih ingin bermain, mengeksplor imajinasi yang mereka ciptakan sendiri.

Yang menarik, sejak anak-anak kita sebenarnya telah mempunyai naluri empati yang besar. Seorang anak kecil yang berada dekat dengan anak kecil yang lain yang sedang menangis, maka Ia akan ikut menangis. Meskipun itu tidak semua terjadi pada anak-anak, namun mari kita menanggalkan egoisme diri dengan mempelajari apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Ya! Mengembalikan naluri anak-anak kita akan menjadikan diri ini menjadi manusia luhur. Anak-anak sering tidak sungkan-sungkan jika ingin memberi. Sedangkan kita, orang dewasa, sering hitung-hitungan untuk mengeluarkan uang 1000an di jalan. Kita sering eman-eman dengan barang-barang lama yang malah sudah tak digunakan lagi. Padahal semua itu bisa disedekahkan kepada yang memerlukan.

Anak kecil. Kini, yang mestinya terbayang dalam diri kita adalah ketulusan untuk berbagi.

Berperan Itu Menyenangkan

“Semua gratis Mbak, kalau tidak begitu nggak ada yang sekolah”… begitulah yang saya temukan di suatu sekolah di Banjarbaru. Pihak sekolah harus kerja ekstra keras untuk mendapatkan bantuan dari pihak luar, baik pemerintah daerah maupun swasta. Dilematis memang, satu sisi kesadaran pendidikan di tengah-tengah masyarakat kita ternyata masih rendah, tapi di sisi lain hal tersebut memicu tanggung jawab sekolah (pemerintah) dalam memberikan layanan pendidikan.

Lalu, siapa yang harus kita bela?

Bukan pertanyaan itu yang seharusnya muncul dalam benak kita. Melainkan, dimana kita bisa berperan?. Dalam kasus di atas, ada banyak peluang peran bagi siapapun. Pertama, sebagai bagian masyarakat mulailah menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya pendidikan bagi anak. Mari ajak anak-anak untuk sekolah, mulai lingkungan terdekat. Menumbuhkan kesadaran bukan hal yang sulit. Kita bisa memulai dengan memberikan contoh dari kehidupan kita sendiri atau dengan menciptakan iklim prestasi, misal dengan mengadakan lomba-lomba atau kompetisi. Dengan demikian semangat berprestasi yang identik dengan dunia sekolah dapat terbangun.

Kedua, membantu secara riil dalam mendorong kemampuan masyarakat dhuafa untuk sekolah. Saat ini, banyak lembaga yang bisa membantu kita untuk menyalurkan bantuan pendidikan. Pilihlah lembaga yang memiliki akuntabilitas dan transparansi yang jelas, sehingga bantuan bisa benar-benar dirasakan manfaatnya. Yakinlah bahwa sedekah adalah investasi abadi.

Ketiga, sebagai bagian dari pemerintah kita bisa menjadi pelaku tanggung jawab yang amanah. Membuka keran-keran informasi untuk semua kalangan masyarakat sehingga banyak yang mengetahui program-program pendidikan. Dewasa ini banyak program-program pemerintah yang digulirkan demi menjamin pendidikan anak bangsa dan untuk memahami sepenuhnya program tersebut bukan hanya kewajiban pemerintah itu sendiri, melainkan juga hak bagi penerima manfaat (masyarakat). Dengan demikian, ada kebutuhan yang tersalurkan secara dua arah. Atau dengan kata lain amanah tertunaikan. Nah, kalau sudah begini apa yang kita rasakan? Menyenangkan bukan?

YAKIN

Percaya tidak percaya, keberhasilan seorang Lakshmi Mittal diawali dari sebuah keyakinan akan dirinya sendiri. Mittal adalah seorang milyader terkaya se-Asia yang membangun kerajaan bajanya dari sebuah kota di Indonesia, Surabaya. Ia berasal dari keluarga miskin. Desa Sadulpur, kampong halamannya merupakan desa miskin yang tidak tersentuh listrik hingga Mittal berusia 10 tahun. Menjadi buruh baja bersama sang Ayah ternyata tidak cukup dalam kehidupan Mittal. Keyakinannya lah yang membawa Ia bisa keluar dari rantai kemiskinan.

Tidak mempunyai modal besar, Mittal membawa keluarga barunya ke Indonesia dan merintis usaha dari nol. Keyakinan yang Ia miliki diikuti oleh kecerdasan melihat peluang dan mengatasi masalah. Bagaimana tidak? Pilihannya untuk migrasi ke Indonesia bukan tanpa alasan. Ia melihat kebijakan pemerintah India saat itu tidak mendukung dunia usaha, terlebih baja. Indonesia sebagai tujuan dipilih salahsatunya karena Mittal punya seorang kerabat yang sudah lebih dulu tinggal di Indonesia, selain itu peluang di Indonesia terhadap produksi baja sangat besar.

Kita, sering memandang remeh diri sendiri. Menganggap tak bisa berbuat apa-apa. Lalu, terpuruk dalam kesedihan karena harus menghadapi kesulitan-kesulitan yang pada dasarnya kita ciptakan sendiri. Padahal kita hanya perlu sebuah keyakinan.

Minggu, 27 Maret 2011

Kesulitan Hanyalah Sebuah Jalan

Oleh : Retno Sulisetiyani (Coorporate Secretary RBP)

Pernah Saya bertemu dengan seorang perempuan yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Dia sedang mengerjakan proyek perumahan sebuah developer. Saya cukup terkejut waktu itu karena Saya pikir pekerjaan itu biasanya dilakukan oleh kaum lelaki. Namun, percakapan singkat dengan perempuan itu akhirnya membuka tabir tanya di kepala saya. Lagi-lagi saya harus mendengar alasan “desakan ekonomi”. Bukannya bosan, tapi kenapa harus “uang” yang selalu jadi “kambing hitam” persoalan hidup? Padahal benda itu hanya terbuat dari logam dan kertas dengan gambar tertentu. Tak ada yang “spesial” menurut saya.

Namun, ada hal lain ternyata yang harus kita lihat. Masalah “uang” hanya satu dari sekian ribu persoalan. Bukan pada berapa banyak yang harus didapatkan untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga, tapi ada nilai yang lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana seorang makhluk menunjukkan eksistensinya di hadapan Sang Pencipta. Setiap makhluk (baca : manusia) pasti melewati ujian-ujian dari Tuhannya untuk mendapatkan sebuah “penghargaan abadi” yang kita sebut surga. Seperti seorang murid yang ingin naik ke kelas yang lebih tinggi, maka Ia harus lulus dalam ujian. Begitu juga manusia, harus berjuang dalam setiap persoalan yang Ia temukan. Semakin sulit dan rumit persoalan, maka bisa dipastikan bahwa Allah swt sedang menyiapkan “kelas” yang semakin tinggi bagi dia. Siapa yang mampu bertahan dan terus berjuang, dialah sang pemenang karena kesulitan hanyalah sebuah jalan.

Di akhir percakapan Saya lihat senyum perempuan itu berkata “Ini jalan hidup yang harus saya selesaikan”.

Sedekah, Makanan Hati

Oleh Retno Sulisetiyani (Coorporate Secretary RBP)

Sebagian besar penerima manfaat RBP ternyata memiliki kebiasaan memberi meskipun sedikit. Alasan yang mereka utarakan hampir sama, yaitu meskipun dalam keadaan terbatas tapi jika disaat-saat ada harta berlebih (bantuan) harus berbagi. Subhanallah. Padahal mereka adalah orang-orang yang patut disantuni. Mungkin karena kebiasaan sedekah itulah langkah-langkah RBP menghampiri mereka.

Ada yang punya kebiasaan memberi kepada siapa saja yang datang meminta-minta. Sudah jadi kebiasaan, begitu alasannya. Tak banyak yang mereka beri. Mungkin hanya lima ratus-an rupiah. Namun, ada kenyamanan batin dihati mereka. Itulah yang membuat mereka merasa cukup dengan segala keterbatasan. Hati itu perlu makan, dan sedekah lah makanannya. Dan karena itu pula, kami selalu bisa melihat senyum di wajah mereka. Teduh.

Mungkin secara harta para mustahik itu tak berpunya, tapi hati mereka luas tak terkira. Ini yang kadang tak dimiliki orang-orang berharta. Selalu merasa kurang, hingga tega merampas hak-hak orang lain. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan ini.

Selasa, 01 Februari 2011

Memetik Sebuah Nilai dari “Rumah Seribu Malaikat”

“Ma, kapan kita makan enak?” seorang anak bertanya pada ibunya.
“Nanti ya Nak, kalau kamu sudah punya banyak ilmu, kita akan makan enak” sang ibu menjawab dengan tersenyum lembut.


Percakapan itu memang saya kutip dari sebuah buku. Tapi, bukan sembarang buku. Buku yang berjudul “Rumah Seribu Malaikat” itu merupakan sebuah kisah nyata dari pasangan suami istri yang memilih hidup sederhana, namun dengan sukarela memelihara puluhan anak asuh. Mereka adalah Yuli dan Badawi. Lebih dari 50 anak mereka asuh, dengan beragam latar belakang. Ada yang ditinggalkan orangtuanya begitu dilahirkan hingga anak korban perkosaan. Banyak kisah kasih yang bisa kita lihat dan teladani dari mereka berdua.

Nah, percakapan di atas adalah perbincangan antara Yuli kecil dengan ibunya, Marsijah. Ketika itu, ujian berat harus mereka jalani. Ekonomi keluarga yang pas-pasan mengharuskan Marsijah membekali Yuli sebungkus garam sebagai bekal ke sekolah. “Nanti, kalau kamu pengen jajan jilat saja garam ini, biar nggak kerasa laparnya” begitu pesan Marsijah kepada Yuli. Begitulah, sebuah perjuangan hidup yang pahit saat itu. Maka, sebagai seorang anak yang punya sisi manusiawi berupa hasrat, muncullah keinginan Yuli untuk makan enak dan bertanyalah Ia pada sang Ibu. Disinilah saya nilai sebuah keistimewaan sosok Marsijah. Ia memilih sebuah jawaban yang sederhana untuk seorang anak-anak, namun juga mengandung pesan agung. Dengan cara yang tetap tenang Ia membisikan sebuah harapan bahwa jika Yuli sungguh-sungguh menuntut ilmu, maka Ia akan makan enak. Setelah itu, Yuli pun menjadi begitu semangat bersekolah. Dan pada akhirnya, setelah dewasa Ia memahami apa yang dikatakan ibunya sebagai sebuah umpan untuk keberhasilannya. Makan enak? Hmm... mudah saja.

Saya yakin, banyak Ibu yang karena himpitan masalah ekonomi melakukan kecerobohan dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya. Mungkin banyak yang akan menjawab asal, seperti “Ah, nanti kalau ada uang”, memberi penanaman nilai materialis kepada sang anak. Atau “Nggak usah mikir makan enak, makan nasi juga syukur”, memupuskan logika optimisme si anak. Atau bisa jadi ada yang acuh tak acuh dengan pertanyaan anaknya itu karena menganggap tak penting.

Anak adalah investasi orangtua, termasuk pola pikirnya. Maka, mari kita berlomba menanam investasi pemikiran positif pada diri anak-anak. Karena anak-anak saat ini adalah gambaran masa depan.