Perjalanan saya selama hampir 2 (dua) tahun di Radar Banjar Peduli (RBP) telah memberi banyak pelajaran berharga. Tak mudah menjadi seorang pekerja sosial, tapi ternyata jauh lebih sulit menghadapi jalan hidup yang berliku. Banyak masalah yang begitu ‘istiqomah’ menjumpai manusia-manusia yang tak berdaya. Entah mereka yang tak punya pekerjaan tetap, atau mereka yang terlilit utang pada rentenir.
Getir lidah ini, kala hanya bisa tersenyum melihat pintu-pintu amal terbuka. Apa yang bisa saya lakukan ketika ada yang meminta sumbangan pembangunan mesjid dikampungnya. “Sudah tiga tahun Mbak,” ujarnya lirih. Insyaallah. Dalam hati saja terucap sembari berharap tangan-tangan muzzaki bersegera mengulurkan bantuan ke sana. Yang membuat saya tercenung adalah mereka kaum terbatas, orang yang tergolong pas-pasan. Namun, masih memikirkan pembangunan kampungnya. Memberikan tenaganya untuk membangun bata-bata rumah Allah. Ya, mereka memberi dalam keterbatasan.
Sungguh bukan sebuah pilihan saya rasa, melainkan sebuah panggilan nurani kemanusiaan. Dan yang terpenting adalah dorongan tangan-tangan tak terlihat, yang senantiasa ada bersama kita, mencatat setiap perbuatan kita. Baik ataupun buruk.
Sadarkah kita, seberapa sering dorongan itu hadir dalam diri dan menjelma dalam wujud nyata? Dorongan untuk memberi, meski kita dalam kekurangan. Saya lihat dari mata-mata yang bersahabat itu, mereka sangat menikmatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar