Oleh : Retno Sulisetiyani (Coorporate Secretary RBP)
Pernah Saya bertemu dengan seorang perempuan yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Dia sedang mengerjakan proyek perumahan sebuah developer. Saya cukup terkejut waktu itu karena Saya pikir pekerjaan itu biasanya dilakukan oleh kaum lelaki. Namun, percakapan singkat dengan perempuan itu akhirnya membuka tabir tanya di kepala saya. Lagi-lagi saya harus mendengar alasan “desakan ekonomi”. Bukannya bosan, tapi kenapa harus “uang” yang selalu jadi “kambing hitam” persoalan hidup? Padahal benda itu hanya terbuat dari logam dan kertas dengan gambar tertentu. Tak ada yang “spesial” menurut saya.
Namun, ada hal lain ternyata yang harus kita lihat. Masalah “uang” hanya satu dari sekian ribu persoalan. Bukan pada berapa banyak yang harus didapatkan untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga, tapi ada nilai yang lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana seorang makhluk menunjukkan eksistensinya di hadapan Sang Pencipta. Setiap makhluk (baca : manusia) pasti melewati ujian-ujian dari Tuhannya untuk mendapatkan sebuah “penghargaan abadi” yang kita sebut surga. Seperti seorang murid yang ingin naik ke kelas yang lebih tinggi, maka Ia harus lulus dalam ujian. Begitu juga manusia, harus berjuang dalam setiap persoalan yang Ia temukan. Semakin sulit dan rumit persoalan, maka bisa dipastikan bahwa Allah swt sedang menyiapkan “kelas” yang semakin tinggi bagi dia. Siapa yang mampu bertahan dan terus berjuang, dialah sang pemenang karena kesulitan hanyalah sebuah jalan.
Di akhir percakapan Saya lihat senyum perempuan itu berkata “Ini jalan hidup yang harus saya selesaikan”.
Minggu, 27 Maret 2011
Sedekah, Makanan Hati
Oleh Retno Sulisetiyani (Coorporate Secretary RBP)
Sebagian besar penerima manfaat RBP ternyata memiliki kebiasaan memberi meskipun sedikit. Alasan yang mereka utarakan hampir sama, yaitu meskipun dalam keadaan terbatas tapi jika disaat-saat ada harta berlebih (bantuan) harus berbagi. Subhanallah. Padahal mereka adalah orang-orang yang patut disantuni. Mungkin karena kebiasaan sedekah itulah langkah-langkah RBP menghampiri mereka.
Ada yang punya kebiasaan memberi kepada siapa saja yang datang meminta-minta. Sudah jadi kebiasaan, begitu alasannya. Tak banyak yang mereka beri. Mungkin hanya lima ratus-an rupiah. Namun, ada kenyamanan batin dihati mereka. Itulah yang membuat mereka merasa cukup dengan segala keterbatasan. Hati itu perlu makan, dan sedekah lah makanannya. Dan karena itu pula, kami selalu bisa melihat senyum di wajah mereka. Teduh.
Mungkin secara harta para mustahik itu tak berpunya, tapi hati mereka luas tak terkira. Ini yang kadang tak dimiliki orang-orang berharta. Selalu merasa kurang, hingga tega merampas hak-hak orang lain. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan ini.
Sebagian besar penerima manfaat RBP ternyata memiliki kebiasaan memberi meskipun sedikit. Alasan yang mereka utarakan hampir sama, yaitu meskipun dalam keadaan terbatas tapi jika disaat-saat ada harta berlebih (bantuan) harus berbagi. Subhanallah. Padahal mereka adalah orang-orang yang patut disantuni. Mungkin karena kebiasaan sedekah itulah langkah-langkah RBP menghampiri mereka.
Ada yang punya kebiasaan memberi kepada siapa saja yang datang meminta-minta. Sudah jadi kebiasaan, begitu alasannya. Tak banyak yang mereka beri. Mungkin hanya lima ratus-an rupiah. Namun, ada kenyamanan batin dihati mereka. Itulah yang membuat mereka merasa cukup dengan segala keterbatasan. Hati itu perlu makan, dan sedekah lah makanannya. Dan karena itu pula, kami selalu bisa melihat senyum di wajah mereka. Teduh.
Mungkin secara harta para mustahik itu tak berpunya, tapi hati mereka luas tak terkira. Ini yang kadang tak dimiliki orang-orang berharta. Selalu merasa kurang, hingga tega merampas hak-hak orang lain. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan ini.
Langganan:
Postingan (Atom)