Selasa, 01 Februari 2011

Memetik Sebuah Nilai dari “Rumah Seribu Malaikat”

“Ma, kapan kita makan enak?” seorang anak bertanya pada ibunya.
“Nanti ya Nak, kalau kamu sudah punya banyak ilmu, kita akan makan enak” sang ibu menjawab dengan tersenyum lembut.


Percakapan itu memang saya kutip dari sebuah buku. Tapi, bukan sembarang buku. Buku yang berjudul “Rumah Seribu Malaikat” itu merupakan sebuah kisah nyata dari pasangan suami istri yang memilih hidup sederhana, namun dengan sukarela memelihara puluhan anak asuh. Mereka adalah Yuli dan Badawi. Lebih dari 50 anak mereka asuh, dengan beragam latar belakang. Ada yang ditinggalkan orangtuanya begitu dilahirkan hingga anak korban perkosaan. Banyak kisah kasih yang bisa kita lihat dan teladani dari mereka berdua.

Nah, percakapan di atas adalah perbincangan antara Yuli kecil dengan ibunya, Marsijah. Ketika itu, ujian berat harus mereka jalani. Ekonomi keluarga yang pas-pasan mengharuskan Marsijah membekali Yuli sebungkus garam sebagai bekal ke sekolah. “Nanti, kalau kamu pengen jajan jilat saja garam ini, biar nggak kerasa laparnya” begitu pesan Marsijah kepada Yuli. Begitulah, sebuah perjuangan hidup yang pahit saat itu. Maka, sebagai seorang anak yang punya sisi manusiawi berupa hasrat, muncullah keinginan Yuli untuk makan enak dan bertanyalah Ia pada sang Ibu. Disinilah saya nilai sebuah keistimewaan sosok Marsijah. Ia memilih sebuah jawaban yang sederhana untuk seorang anak-anak, namun juga mengandung pesan agung. Dengan cara yang tetap tenang Ia membisikan sebuah harapan bahwa jika Yuli sungguh-sungguh menuntut ilmu, maka Ia akan makan enak. Setelah itu, Yuli pun menjadi begitu semangat bersekolah. Dan pada akhirnya, setelah dewasa Ia memahami apa yang dikatakan ibunya sebagai sebuah umpan untuk keberhasilannya. Makan enak? Hmm... mudah saja.

Saya yakin, banyak Ibu yang karena himpitan masalah ekonomi melakukan kecerobohan dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya. Mungkin banyak yang akan menjawab asal, seperti “Ah, nanti kalau ada uang”, memberi penanaman nilai materialis kepada sang anak. Atau “Nggak usah mikir makan enak, makan nasi juga syukur”, memupuskan logika optimisme si anak. Atau bisa jadi ada yang acuh tak acuh dengan pertanyaan anaknya itu karena menganggap tak penting.

Anak adalah investasi orangtua, termasuk pola pikirnya. Maka, mari kita berlomba menanam investasi pemikiran positif pada diri anak-anak. Karena anak-anak saat ini adalah gambaran masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar