Oleh Retno Sulisetiyani (Coorporate Secretary RBP)
Negeri ini kembali di dera musibah. Banjir, gempa, tsunami, hingga gunung meletus. Banyak haru dan tangis kita lihat, baik melalui media elektronik maupun cetak. Banyak gejolak jiwa yang menyeruak memenuhi batin kita, simpati hingga empati untuk membantu meringankan beban para korban, karena kita yakin bahwa rasa persaudaraan untuk kemanusiaan dapat melintasi ruang dan waktunya.
Namun, dari sekian banyak kesedihan yang terekam oleh mata, telinga, dan hati, ternyata ada seberkas cahaya senyum. Coba kita tengok di sudut-sudut tenda pengungsi, atau di tanah-tanah lapang yang tersisa. Ada kaki-kaki kecil yang berlarian penuh tawa. Kaki-kaki itu milik anak-anak para korban. Saya ingat, seorang rekan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengupload foto-foto saat tim ACT berada di lokasi bencana. Di wasior, ada anak-anak yang tersenyum lebar bermain di lapangan tempat pengungsian, atau di Lereng Merapi, tiga bocah berdesakan di jendela tenda pengungsian dan (kembali) menyunggingkan tawa keceriaan.
Ya, anak-anak itu memang masih anak-anak. Mereka belum mengerti apa yang sedang melanda negerinya. Apa maksud dari gemuruh tanah yang mereka pijak. Bagaimana menghadapi musibah yang menimpa keluarga mereka. Mereka hanya tahu bahwa saat ini mereka libur sekolah. Bahwa saat ini rumah mereka hilang. Bahwa ada keluarga mereka yang hilang atau meninggal. Mereka hanya tahu itu. Ketika para relawan mengajak mereka bermain, maka disanalah mereka. Berlarian, tertawa, dan bergembira.
Lantas, bagaimana kita? Para orang tua, yang jauh lebih dewasa. Apakah kita akan ikut memaknai musibah-musibah ini dengan menutup mata, pura-pura tidak tahu? Tidak bijak rasanya. Begitu banyak masa sudah kita lalui. Banyak pelajaran sudah kita dapatkan. Maka, saatnya bagi kita menunjukkan siapa diri ini, bagi bangsa kita, Indonesia. Karena bangsa ini ada bukan terjadi begitu saja. Melainkan ada tangan-tangan penuh luka, ada bercak darah, dan gugurnya pejuang-pejuang bangsa untuk melahirkannya. Masihkah kita hanya diam?
Bagi para korban, mari berdiri, busungkan dada hadapi kesempatan yang masih diberi dengan kecemerlangan. Bagi kita yang hanya mampu memandang dari kejauhan, ulurkan tangan untuk membantu mereka. Jika tenaga yang bisa kita beri, maka curahkanlah. Jika motivasi yang mampu kita Jika uang yang bisa kita bagi, maka ikhlaskanlah. Jika doa yang sanggup kita hadiahkan, maka lantunkanlah. Banyak cara saudaraku untuk memberi, banyak hal yang bisa kita bagi.
Biarkan Allah swt mengajar kita, para makhluknya. Meski itu sakit. Karena begitulah cara Allah menyayangi kita. Biarkan kaki-kaki kecil itu berlarian dengan riangnya. Biarkan mereka mengumbar tawa. Biarkan senyuman itu melekat di bibir mungilnya. Karena mungkin itulah yang bisa mereka persembahkan untuk bangsa ini. Sebuah keceriaan, yang belum tentu kita (orang dewasa) mampu memberikannya[]
dimuat di kolom Radar Banjar Peduli (RBP) Harian Radar Banjarmasin hal.20, Minggu (7/11/2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar